Wisata udara dengan mencharter helikopter dari Air Bali menjadi pilihan alternative untuk menikmati keindahan pulau seribu pura ini. Berikut sebagian hasil jepretan yang semuanya merupakan hak cipta dari Air Bali.



Wisata udara dengan mencharter helikopter dari Air Bali menjadi pilihan alternative untuk menikmati keindahan pulau seribu pura ini. Berikut sebagian hasil jepretan yang semuanya merupakan hak cipta dari Air Bali.



Kawasan Kuta yang ramai dengan traveler dari dalam dan luar negeri menarik minat para pedagang kerajinan dan oleh-oleh Bali untuk membuat komunitas atau kumpulan untuk jualan pernak-pernik tersebut.
Mungkin juga terinspirasi oleh pasar seni Sukawati atau Guwang, di Kuta kini telah hadir pasar seni satu lagi. Pasar seni yang pertama ada di jalan sebelum Kuta Square dari arah jalan Kartika Plaza. Pasar seni yang satu ini adalah pasar seni dadakan. Soalnya kalau pagi hari pasar ini adalah pasar yang menjual beraneka sayuran, ikan dan barang dagangan pasar tradisional umumnya. Namun menjelang siang, pasar ini disulap menjadi pasar seni yang menawarkan berbagai oleh-oleh khas Bali. Mulai dari pakaian dengan motif Bali, bed cover dan barang-barang lainnya yang bisa dijumpai di Sukawati.
Barang-barang di sini nampaknya banyak juga yang diambil dari pengrajin di daerah Gianyar dan sebagian memang dari pengrajin di Kuta dan sekitarnya. Jadi harganya mungkin lebih mahal sedikit dari yang di pasar Sukawati. Tetapi kalau kita-kita memang jago dalam urusan tawar-menawar, tetap akan mendapatkan harga yang bagus.
Untuk yang belum sempat beli oleh-oleh ke Sukawati, bisa mencoba di pasar seni Kuta ini.
Masuk dari Jalan By Pass Ngurah Rai Padanggalak Denpasar Timur, kita akan melihat pusat pembuatan keramik. Ada papan nama besar “Kertalangu Bali Cultural Village”(Desa Budaya Kertalangu) sehingga memudahkan kita untuk mengetahui lokasi ini. Tempat ini baru diresmikan Juni lalu sehingga relatif belum banyak orang yang tahu.
Kertalangu sekaligus sebagai desa konservasi lahan pertanian. Menurut Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Wayan Warka, Desa Budaya ini berawal dari kekhawatiran makin hilangnya sawah dan berganti rumah di jalur hijau tersebut. Warga bersama pihak swasta kemudian membuat desa budaya tersebut. “Agar para petani tetap menjalani aktivitasnya dan mendapat nilai plus dari aktivitas pertaniannya,” kata Warka.
Dengan konsep cultural village, Kertalangu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Tempat bersantap hanya salah satu pelengkap dari sekian banyak fungsi seperti jogging track, kegiatan budaya (tari barong dan kecak dance), kolam pancing, tempat pelatihan spa, pembuatan spa products, demonstrasi pembuatan kerajinan, natural stone & pottery, keramik, serta lilin, garmen, dan produk kaca. “Kami memang menerapkan konsep community development,” kata Dewa Gede Ngurah Rai, pemilik PT Uber Sari, pengelola kawasan tersebut.
Jika untuk jogging, maka waktu paling tepat datang ke sini adalah pagi atau sore ketika matahari tidak terlalu menyengat. Menyusuri jalur jogging sepanjang 4 km selama satu jam tergolong melelahkan. Namun panjang dan lama menyusuri jalan tidak akan terasa karena mata kita dimanjakan pemandangan di sana.
Jalur jogging ini berupa lantai semen selebar 2 meter yang menyusuri areal sekitar 80 hektar. Pengunjung akan diajak menyusuri jalur yang konturnya mengikuti lansekap naik turun sawah. Bagian pertama sekaligus nanti jadi tempat terakhir berupa area inti di mana ada berbagai fasilitas yang sudah disebut tadi. Di sini pengunjung tidak hanya jogging tapi juga bisa masuk melihat proses pembuatan kerajinan keramik, batu, gelas, garmen, lilin, bahkan spa.
Setelah itu kita menyusuri naik turun jalur jogging. Kita bisa melihat petani sedang bekerja di sawah, bahkan berbincang dengan mereka jika mau. Atau malah ikut bekerja dengan mereka. Sebab petani-petani itu memang bagian dari Desa Budaya Kertalangu. Ada 204 pemilik lahan dan petani di areal tersebut. “Mereka bukan buruh tani tapi petani yang memang punya lahan di sini,” kata Gede.
Jika Anda capek menyusuri jalur panjang tersebut, ada beberapa gubuk petani maupun bale bengong buatan PT Uber Sari yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil menikmati semilir angin persawahan. Hiruk pikuk Denpasar sama sekali tidak tersisa di sini.
Selesai jogging atau sekadar jalan-jalan menyusuri pematang sawah, tempat terakhir adalah bersantap. Pada pagi atau sore hari ketika ramai orang jogging, menu yang ada merupakan menu-menu sederhana seperti bubur ayam, kacang hijau, nasi kuning, jagung bakar, dan sate ayam. Harganya tak lebih dari Rp 5000 tiap porsi.
Makanannya memang murah, tapi suasananya yang mahal: susah dicari di Denpasar. Eh, tapi pengunjung tidak bayar apa pun untuk jogging atau jalan-jalan di Kertalangu. Gratis.
Menikmati makanan murah dan menyehatkan itu di bale bengong di pinggir sawah jelas berbeda dibanding menyantap menu mahal di restoran. Kalau dibandingkan dengan Ubud jelas berbeda. Sebab di Ubud harganya relatif mahal dan terlalu berbau turisme. Kalau di Kertalangu benar-benar terasa lebih ndeso suasananya.
Kita bisa melihat sisa-sisa padi yang baru dipanen. Ada pula yang baru mulai bertanam, sudah menghijau, atau malah sedang kuning-kuningnya menjelang dipanen. Sesekali ada teriakan petani mengusir burung-burung pemakan padi. Hmm, benar-benar apa adanya.
Kalau ingin menikmati makanan lebih mewah, pengunjung tinggal pindah ke restorannya yang menyedian menu-menu berkelas. Duduk di restoran tanpa dinding sama sekali kita masih bisa menikmati suasan meski lebih terbatas.
Selain tempat bersantap, tempat ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam pancing, panggung pertunjukan, dan tempat meeting. “Kami juga mengajak penduduk setempat untuk menari kecak, barong, dan joget bumbung. Mereka menari berdasarkan permintaan. Jadi tidak tiap hari menari,” kata Gede.
Satu tempat ini memang menawarkan beragam kegiatan untuk menghilangkan penat akibat pekerjaan sehari-hari.
Oh ya untuk Anda yang sedang liburan bersama anak-anak, bisa juga diajak untuk belajar menanam padi. Kegiatan ini memang disediakan oleh pengelola dan bisa dipesan untuk paket liburan.
Desa Budaya Kertalangu
Jl By Pass Ngurah Rai No 88 X Tohpati
Denpasar Bali
Telp 0361 – 461727
Sumber : www.balebengong.net
Ketika mengunjungi sebuah objek wisata, biasanya kita juga akan mendapati pusat perbelanjaan oleh-oleh.Begitu juga ketika kita mengunjungi Kuta, Bali.
Di kawasan wisata ini ada pusat perbelanjaan yang namanya Kuta Galeria yang berdekatan dengan central parkir Kuta. Kawasan ini termasuk daerah yang tenang, sehingga suasananya nyaman untuk jalan-jalan. Di kawasan Kuta Galeria ini juga ditawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari dan juga oleh-oleh liburan di Bali. Mulai dari pernak-pernik berupa lukisan, patung, tempat makan, boneka dan masih banyak lagi yang lainnya.
Satu hal yang menarik yang tidak boleh dilewatkan saat jalan-jalan di Kuta Galeria yaitu melihat “Bali Bersalju”. Nah di sini kita bisa bayangin gimana kalau kita hidup di negara dengan 4 musim seperti di Eropa.Penasaran kan??
Nah gimana dengan rencana liburan kamu ke Bali? Silakan dicoba untuk melihat uniknya kawasan Kuta Galeria Bali.

Kawasan wisata Lovina itu terletak di bagian utara pulau Bali, kira-kira 2,5 jam perjalanan dari kawasan Kuta. Pantai ini terkenal akan keindahan pantainya dan juga si “cantik” dolphin alias lumba-lumba.
Perjalanan untuk melihat aksi Lumba-lumba ini dimulai pada pagi hari, dengan menyewa sebuah perahu yang harganya tidak lebih dari Rp.100-ribuan, dijamin pengalaman menikmati aksi lumba-lumba itu akan menyenangkan. Tapi jangan terkejut seandainya mereka juga tidak muncul. Kadang-kadang itu bisa terjadi juga.
Selain itu pantai ini menawarkan privasi yang lebih untuk anda, lebih nyaman karena lebih sepi dari pantai Kuta. Jadi kunjungan ke pantai Lovina bisa dimasukkan dalam agenda liburan anda.

Perjalanan hari ini masih dalam rangka Kuta Karnival yang ke 5 yang berlangsung hingga 9 September mendatang. Acara yang digelar sore ini yaitu pertunjukan musik dangdut dan juga sexy dancer. Yah lumayan menghibur juga, apalagi lihat penontonnya pada seru semua.
Sambil menikmati pertunjukan musik, kita bisa menikmati pemandangan sunset yang terkenal di pantai Kuta. Saat itulah banyak wisatawan yang mengabadikan moment itu. Banyak yang berebutan untuk photo dengan latar sunset alias matahari tenggelam.
Akhirnya sang Surya kembali ke peraduan seiring acara Kuta Karnival hari ini berakhir dan dilanjutkan besok hari.