Berwisata di desa budaya Kertalangu

August 9, 2008

Masuk dari Jalan By Pass Ngurah Rai Padanggalak Denpasar Timur, kita akan melihat pusat pembuatan keramik. Ada papan nama besar “Kertalangu Bali Cultural Village”(Desa Budaya Kertalangu) sehingga memudahkan kita untuk mengetahui lokasi ini. Tempat ini baru diresmikan Juni lalu sehingga relatif belum banyak orang yang tahu.

Kertalangu sekaligus sebagai desa konservasi lahan pertanian. Menurut Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Wayan Warka, Desa Budaya ini berawal dari kekhawatiran makin hilangnya sawah dan berganti rumah di jalur hijau tersebut. Warga bersama pihak swasta kemudian membuat desa budaya tersebut. “Agar para petani tetap menjalani aktivitasnya dan mendapat nilai plus dari aktivitas pertaniannya,” kata Warka.

Dengan konsep cultural village, Kertalangu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Tempat bersantap hanya salah satu pelengkap dari sekian banyak fungsi seperti jogging track, kegiatan budaya (tari barong dan kecak dance), kolam pancing, tempat pelatihan spa, pembuatan spa products, demonstrasi pembuatan kerajinan, natural stone & pottery, keramik, serta lilin, garmen, dan produk kaca. “Kami memang menerapkan konsep community development,” kata Dewa Gede Ngurah Rai, pemilik PT Uber Sari, pengelola kawasan tersebut.

Jika untuk jogging, maka waktu paling tepat datang ke sini adalah pagi atau sore ketika matahari tidak terlalu menyengat. Menyusuri jalur jogging sepanjang 4 km selama satu jam tergolong melelahkan. Namun panjang dan lama menyusuri jalan tidak akan terasa karena mata kita dimanjakan pemandangan di sana.

Jalur jogging ini berupa lantai semen selebar 2 meter yang menyusuri areal sekitar 80 hektar. Pengunjung akan diajak menyusuri jalur yang konturnya mengikuti lansekap naik turun sawah. Bagian pertama sekaligus nanti jadi tempat terakhir berupa area inti di mana ada berbagai fasilitas yang sudah disebut tadi. Di sini pengunjung tidak hanya jogging tapi juga bisa masuk melihat proses pembuatan kerajinan keramik, batu, gelas, garmen, lilin, bahkan spa.

Setelah itu kita menyusuri naik turun jalur jogging. Kita bisa melihat petani sedang bekerja di sawah, bahkan berbincang dengan mereka jika mau. Atau malah ikut bekerja dengan mereka. Sebab petani-petani itu memang bagian dari Desa Budaya Kertalangu. Ada 204 pemilik lahan dan petani di areal tersebut. “Mereka bukan buruh tani tapi petani yang memang punya lahan di sini,” kata Gede.

Jika Anda capek menyusuri jalur panjang tersebut, ada beberapa gubuk petani maupun bale bengong buatan PT Uber Sari yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil menikmati semilir angin persawahan. Hiruk pikuk Denpasar sama sekali tidak tersisa di sini.

Selesai jogging atau sekadar jalan-jalan menyusuri pematang sawah, tempat terakhir adalah bersantap. Pada pagi atau sore hari ketika ramai orang jogging, menu yang ada merupakan menu-menu sederhana seperti bubur ayam, kacang hijau, nasi kuning, jagung bakar, dan sate ayam. Harganya tak lebih dari Rp 5000 tiap porsi.

Makanannya memang murah, tapi suasananya yang mahal: susah dicari di Denpasar. Eh, tapi pengunjung tidak bayar apa pun untuk jogging atau jalan-jalan di Kertalangu. Gratis.

Menikmati makanan murah dan menyehatkan itu di bale bengong di pinggir sawah jelas berbeda dibanding menyantap menu mahal di restoran. Kalau dibandingkan dengan Ubud jelas berbeda. Sebab di Ubud harganya relatif mahal dan terlalu berbau turisme. Kalau di Kertalangu benar-benar terasa lebih ndeso suasananya.

Kita bisa melihat sisa-sisa padi yang baru dipanen. Ada pula yang baru mulai bertanam, sudah menghijau, atau malah sedang kuning-kuningnya menjelang dipanen. Sesekali ada teriakan petani mengusir burung-burung pemakan padi. Hmm, benar-benar apa adanya.

Kalau ingin menikmati makanan lebih mewah, pengunjung tinggal pindah ke restorannya yang menyedian menu-menu berkelas. Duduk di restoran tanpa dinding sama sekali kita masih bisa menikmati suasan meski lebih terbatas.

Selain tempat bersantap, tempat ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam pancing, panggung pertunjukan, dan tempat meeting. “Kami juga mengajak penduduk setempat untuk menari kecak, barong, dan joget bumbung. Mereka menari berdasarkan permintaan. Jadi tidak tiap hari menari,” kata Gede.

Satu tempat ini memang menawarkan beragam kegiatan untuk menghilangkan penat akibat pekerjaan sehari-hari.

Oh ya untuk Anda yang sedang liburan bersama anak-anak, bisa juga diajak untuk belajar menanam padi. Kegiatan ini memang disediakan oleh pengelola dan bisa dipesan untuk paket liburan.

Desa Budaya Kertalangu
Jl By Pass Ngurah Rai No 88 X Tohpati
Denpasar Bali
Telp 0361 – 461727

Sumber : www.balebengong.net


Perlindungan desain tradisional Bali

August 9, 2008

Kelestarian seni dan budaya Bali saat ini dalam ancaman. Sejumlah karya seni masyarakat Bali yang telah diwarisi turun-temurun, dikhawatirkan secara perlahan-lahan akan punah karena dilucuti pengusaha asing. Pemda Bali mesti bersikap dengan membuat peraturan daerah (perda) sebagai payung hukum yang melindungi para perajin serta motif tradisional Bali.

Hal itu terungkap pada diskusi terbatas Perlindungan Desain Tradisional Bali serta Problematikanya, di Warung Beras Bali, Jumat (25/7) kemarin. Made Widiantara dari Kanwil Hukum dan HAM Bali menyatakan negara memberikan perlindungan hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui (pasal 10 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta). Selanjutnya disebutkan negara memegang hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya.

Kalaupun folklor menginspirasi seseorang mengembangkan suatu karya, maka hak ciptanya hanya bisa didaftarkan oleh warga Indonesia. Kalau ada orang asing yang mengajukan permohonan harus seizin pemerintah Indonesia. Pemerintah dalam hal ini dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta tindakan yang merusak atas pemanfaatan komersial tanpa seizin negara RI sebagai pemegang hak cipta.

Hanya persoalannya, lanjut Widiantara, sampai saat ini belum ada peraturan pemerintah yang menjadi pelaksana UU tersebut, sehingga menyebabkan kekosongan hukum. Pihaknya menyarankan Pemda Bali segera membuat aturan hukum melalui perda yang di dalamnya juga dilampiri inventarisasi karya-karya seni budaya tradisional Bali, sehingga bisa menjadi dasar hukum untuk menggugat kalau ada orang yang mendaftarkan sekaligus mendapatkan hak ciptanya. Peluang masyarakat Bali kecolongan sangat terbuka. ‘Sampai saat ini pemerintah belum memiliki inventaris folklor, yang bisa digunakan untuk menyaring apakah suatu karya yang didaftarkan merupakan karya seni budaya tradisional atau tidak,’ kata Widiantara.

Tjok. Udiana Nindhia, dosen Institut Seni Indonesia (ISI), menyatakan kelestarian budaya Bali perlu diselamatkan dari pemanfaatan sewenang-wenang pihak asing. Pemerintah perlu segera turun tangan serta memberikan perlindungan hukum kepada para perajin Bali yang memanfaatkan desain tradisional Bali.

Pihaknya mengaku sangat khawatir melihat perkembangan yang terjadi. Sejumlah desain tradisional, seperti patra punggel, kuping guling telah dihakciptakan pihak asing. Kondisi ini jika tidak dicermati secara cepat, akan membuat para perajin jadi terhimpit. Tidak menutup kemungkinan para perajin dipaksa bersentuhan dengan hukum, padahal apa yang dikaryakannya itu merupakan warisan leluhur.

Selanjutnya, Udiana Nindhia menyadari sepenuhnya bahwa problem perajin Bali dalam mendaftarkan karya ciptanya karena terbentur soal dana. Perlu dana besar untuk mendapatkan sebuah hak cipta. Perajin sudah pasti akan menghubungkan antara pengeluaran untuk mendapatkan hak cipta serta hasil penjualan produksinya. Terkadang perolehan keuntungan yang sedikit, membuat para perajin enggan mendaftarkan ciptaannya.

Widiantara menambahkan, biaya resmi pendaftaran sebuah hak cipta hanya Rp 650 ribu. Memang ada sumbangan yang bersifat sukarela, namun sifatnya tidak memaksa. Namun, untuk perajin yang termasuk kategori UKM, pemerintah akan memberikan keringanan dalam biaya pendaftaran.

Sumber : Balipost


Tanjung Benoa

August 9, 2008

Tanjung Benoa, yang berlokasi bertetanggaan dengan kawasan wisata Nusa Dua ternyata memiliki daya tarik yang unik. Di tengah tenangnya lautan di kawasan pantai ini, ternyata membawa berkah.

Lokasi Tanjung Benoa

Tanjung Benoa berada di ujung tenggara pulau Bali dan bertetanggaan dengan kawasan Nusa Dua. Dapat ditempuh dalam 35 menit dari Kuta, 40 menit dari Sanur dan 20 menit dari Airport Ngurah Rai.

Tanjung Benoa Watersport

Tanjung benoa menjadi tempat yang sangat cocok untuk kegiatan watersport atau olahraga air. Pantai di kawasan ini sangat tenang berbeda dengan di Kuta, Sanur atau Uluwatu sehingga menjandikan kawasan ini sebagai satu-satunya tempat untuk permainan-permainan menyenangkan ini.

Olah raga air yang bisa dinikmati di sini diantaranya adalah jetski, parasailing, banana boat, scuba diving, snorkeling , Glassbottom plus kunjungan ke Turtle Island (pulau penyu) dan Flying Fish.

Kegiatan biasanya dimulai di pagi hari sekitar jam 8 sampai dengan jam 12-an, karena setelah itu air akan surut dan Anda tidak bisa menikmati permainan-permainan lagi karena boatnya tidak bisa digunakan.

Dengan instruktur-instruktur yang handal, akan memberikan jaminan keselamatan dan kenyamanan Anda saat menikmati permainan di pantai ini.


Hotel di kawasan Tanjung Benoa

August 9, 2008

Jika Anda berjalan-jalan ke kawasan wisata Tanjung Benoa atau juga habis menikmati berbagai permainan watersport, Anda akan ditunjukkan pada fakta bahwa kawasan wisata di Bali ini tidak hanya dikenal dengan pantainya yang berpasir putih atau ombaknya yang tenang.

Sama halnya dengan Kuta, Sanur atau Nusa Dua. Kawasan Tanjung Benoa telah berkembang menjadi kawasan wisata yang berfasilitas lengkap. Restoran dengan menu lokal dan internasional, pedagang furniture dan interior, minimarket, spa sampai juga ke akomodasi (hotel).

Di kawasan ini banyak ada hotel-hotel yang berbintang dan berstandard internasional. Sebut saja Novotel Benoa, Club Mirage, Conrad, Melia Benoa, Kind Villa Bintang dan nama-nama tenar lainnya ada di sini.

Jadi kalau cari alternatif lainnya, kawasan wisata yang juga super lengkap ini patut dicoba.


Kawasan Poppies Lane Kuta

August 5, 2008

Dari pertama kali wisata di Kuta dan Legian booming, kawasan yang satu ini memang sudah terkenal. Namanya kawasan Poppies Lane I dan II.

Poppies Lane bisa ditempuh dari jalan pantai Kuta dan tembusnya di Jalan Legian.

Poppies juga dikenal sebagai pusat penginapan murah di Kuta. Kalau hotel di kawasan Pantai Kuta harganya cukup bikin kantong kering, bagi backpacker mania Poppies bisa menjadi pilihan.

Inn-inn di sini harganya bisa dapat mulai Rp. 60 ribuan sampai ratusan ribu per malam, tergantung bisa nawar dan juga seasonnya. Kalau pas lagi liburan seperti bulan Juni-Agustus, harganya pun ikut naik.

Poppies juga menawarkan wisata murah untuk kebutuhan makan anda. Masih banyak ada warung-warung yang menawarkan makanan yang bersih dan harganya sangat bersahabat.

Kalau dilihat dari lokasinya, cukup ideal untuk jalan-jalan. Kalau sore-sore mau lihat sunset di pantai Kuta, cukup jalan kaki saja. Atau kalau malam mau jalan-jalan di seputar jalan Legian dan clubbing, cukup jalan kaki juga.

Kawasan Poppies memang menawarkan wisata murah tapi menarik. Mau coba?


Paket Rafting Bali di ayungrafting.com

August 1, 2008

Seiring permintaan yang meningkat akan paket rafting di Bali, Ekuta Holiday kembali meluncurkan website baru yang menawarkan jasa rafting di Bali.

Paket rafting memang menawarkan tantangan penuh fun dan asyik dan menjadi favorit di Bali.

Untuk info lengkapnya, silakan log on ke www.ayungrafting.com